Pendekatan Pembelajaran Aktif

Pembelajaran aktif dapat dilaksanakan dengan pendekatan dangkal  atau pendekatan mendalam. Pendekatan dangkal adalah pendekatan yang hanya meningkatkan kompetensi siswa secara dangkal, yaitu hanya meningkatkan keterampilan berpikir tingkat rendah dan penguasaan konsep yang dangkal. Sedangkan  pendekatan mendalam adalah pendekatan yang meningkatkan kompetensi siswa secara mendalam, yaitu meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan penguasaan konsep yang lebih dalam. Menurut JICA (2009) perbedaan pendekatan dangkal dan mendalam adalah sebagai berikut.

 Pendekatan Dangkal

Pendekatan Mendalam

Memperhatikan prosedur tugas dan hafalan. Menggali ide secara lebih mendalam.
Memahami topik secara fleksibel.
Tugas bagi para siswa di Amerika biasanya berbentuk soal hitungan untuk latihan menerapkan algoritma. Akibatnya, skor prestasi aritmatika siswa Amerika lebih rendah daripada siswa Jepang dan Taiwan. Tugas di kelas Jepang dan Taiwan berupa satu persoalan rumit, mengajak anak untuk tenggelam dalam berpikir mengenai hubungan konseptual, bukan sekedar penerapan yang sifatnya prosedural.

Sumber: Dipersiapkan oleh Para Penulis, berdasarkan Anderson (1995) serta Stigler dan Stevenson (1991).

Karena pembelajaran aktif dilaksanakan melalui pertanyaan dan tugas untuk mengaktifkan siswa belajar, kedalaman atau kedangkalan suatu pembelajaran yang dilaksanakan guru dapat diketahui dari pertanyaan atau tugas yang diberikan pada siswa sebagai berikut.

Pertanyaan Dangkal

Pertanyaan Mendalam

Pertanyaan-pertanyaan lebih dari 3 pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan utama hanya satu atau dua pertanyaan, paling banyak 3 pertanyaan.
Pertanyaan-pertanyaan disusun secara prosedural untuk membimbing siswa  berpikir selangkah-selangkah untuk memahami konsep atau menyelesaikan masalah. Pertanyaan  terdiri atas pertanyaan utama dan pertanyaan susulan. Pertanyaan utama menuntut siswa berpikir tingkat tinggi dengan mengerahkan segenap pengetahuan dan wawasannya. Sedangkan pertanyaan susulan diajukan untuk membuat siswa berpikir lebih dalam.
Umumnya diajukan pada siswa melalui LKS yang harus dikerjakan oleh siswa dalam kegiatan kelompok. Pertanyaan utama dan susulan dilaksanakan dalam kegiatan klasikal dialog mendalam. Dalam kegiatan kelompok siswa hanya mendapat pertanyaan utama untuk didialogkan oleh siswa dalam kelompoknya.

 Pembelajaran yang mengajukan pertanyaan utama yang dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan susulan untuk meningkatkan keterampilan berpikir dan penguasaan pengetahuan yang lebih dalam hanya dapat dilaksanakan dalam kegiatan  klasikal dialog mendalam antara guru dan semua siswa dalam satu kelas. Karena itu, kegiatan klasikal tersebut penting untuk dilaksanakan dalam pembelajaran sehari-hari di sekolah.

 Pembelajaran dengan model-model pembelajaran di Indonesia tidak mengenal kegiatan klasikal dialog mendalam, karena pembelajaran selalu dilaksanakan dalam kegiatan kelompok dan selalu menggunakan LKS dengan pertanyaan-pertanyaan yang dangkal, agar dapat dijawab oleh siswa dalam kegiatan kelompoknya.

Referensi:

JICA. 2009. Panduan untuk Lesson Study Berbasis MGMP dan Lesson Study Berbasis
Sekolah.  Kemendiknas, Depag, dan Internasional Development Center of Japan.

Tentang Darliana

Mantan Widyaiswara PPPPTK IPA
Pos ini dipublikasikan di Pembelajaran IPA. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s