Fleksibilitas Pembelajaran

A.   Fleksibilitas Cara Menyelesaikan Masalah atau Memahami Konsep

Menurut JICA (b) (2009), para guru harus menahan diri untuk tidak menyampaikan semua pengetahuan atau ide pada LKS-nya, jika mereka berharap agar siswa bisa belajar secara mendalam. Mereka juga harus menghindari  LKS  yang  penuh  dengan  tuntunan  langkah  yang terperinci.

Langkah-langkah yang terperinci, seperti algoritma (prosedur khusus, bukan prosedur umum), membuat siswa berpikir mengikuti langkah-langkah itu, tanpa berusaha untuk memunculkan pemikirannya sendiri. Tuntunan langkah-langkah itu tidak merangsang penalaran siswa, sehingga kurang meningkatkan penalaran siswa yang seharusnya ditingkatkan dengan baik.

 B.   Perubahan Situasi Belajar Siswa

Perubahan situasi belajar akan terjadi pada saat pertanyaan susulan yang kita ajukan dijawab oleh beberapa siswa dengan jawaban yang salah atau tidak dapat dijawab oleh semua siswa. Jawaban-jawaban yang salah atau ketidakmampuan siswa menjawab pertanyaan itu kemungkinan disebabkan oleh prasyarat pengetahuan (prerequisite) yang seharusnya sudah dimiliki siswa belum dimiliki siswa atau ada pemahaman yang keliru (miskonsepsi) yang dimiliki siswa, sehingga jawabannya salah. Pada saat-saat seperti itu situasi belajar siswa harus diubah. Kemungkinan perubahan situasi belajar siswanya antara lain sebagai berikut.

  1. Kita mengajukan analogi, lalu siswa diberi pertanyaan-pertanyaan untuk memahami konsep yang identik dengan yang diperlukan siswa untuk menjawab pertanyaan terdahulu. Setelah terjawab oleh siswa kembali ke pertanyaan terdahulu.
  2. Kita mengajukan contoh fenomena yang lain, lalu siswa diberi pertanyaan-pertanyaan untuk memahami konsep yang diperlukan siswa untuk menjawab pertanyaan terdahulu. Setelah terjawab oleh siswa kembali ke pertanyaan terdahulu.
  3. Kita mengubah kegiatan belajar siswa dengan kegiatan yang lain, misalnya meminta siswa melakukan percobaan atau demonstrasi, kemudian mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat membantu siswa menjawab pertanyaan terdahulu.

 Perubahan situasi belajar tersebut bergantung pada jawaban siswa dan kebutuhan siswa untuk mengetahui dan memahami jawaban yang benarnya. Pada saat itu guru harus dapat memperkirakan analogi, fenomena lain, atau kegiatan lain yang dibutuhkan siswa tersebut.

 C.   Penyesuaian Pembelajaran dengan Kondisi Sekolah

Banyak sekolah di Indonesia yang kurang memiliki alat/media pembelajaran yang lengkap. Bagi sekolah-sekolah tersebut kekurangan atau ketiadaan alat/media pembelajaran tidak menjadi kendala untuk dapat meningkatkan mutu pembelajarannya. Jika alat dan bahan praktik yang diperlukan tidak tersedia di sekolah dan tidak dapat diganti dengan barang-barang lain yang ada di sekolah, di rumah, atau di lingkungan, guru dapat mengganti alat dan bahan praktik tersebut dengan gambar alat dan bahan tersebut. Dalam pelaksanaannya guru dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan dialogis yang meminta siswa mengidentifikasi variabel, merencanakan percobaan, dan lain-lain. Selanjutnya guru menceriterakan cara melaksanakan percobaan yang menggunakan alat dan bahan seperti yang terdapat pada gambar dan memberikan hasil pengamatan/pengukuran untuk diolah oleh siswa. Dengan cara ini kompetensi siswa dalam inkuiri ilmiah dapat ditingkatkan dengan baik, hanya psikomotornya saja yang tidak ditingkatkan.

Tentang Darliana

Mantan Widyaiswara PPPPTK IPA
Pos ini dipublikasikan di Pembelajaran IPA. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s